Orang yang memutuskan untuk menikah, biasanya dengan alesan karena udah ngerasa cocok. Tapi pasangan sedang dalam proses perceraian, biasanya alesannya, karena udah ngga ada lagi kecocokan. Lho koq?!
Nah, sebenernya cocok itu apa sih?. Kalo yang dimaksud cocok itu memiliki kesamaan, atau memenuhi semua kriteria yang diminta dari masing2 pasangan, pengalaman ei selama numpang hidup di dunia ini, ga ada hubungan dari 2 manusia yg bener2 cocok satu sama lain. Cocok tidak berarti memiliki kesamaan yang sama persis. Atau masing2 pasangan dapat memenuhi semua kriteria dari pasangannya. Tapi sebuah pasangan dibilang cocok, bila kondisi yang ada masih dalam batas toleransi bagi masing2 pasangan tadi.
Sekarang pertanyaannya apakah batas toleransi itu harga mati? Jawabannya, tidak!. Kenapa? Iya, jadi dalam menentukan batas toleransi sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Selain itu batas toleransi dilandasi dari hasil kompromi. Nah, kayaknya banyak orang sudah sepakat bahwa tidak ada yang tetap didunia ini kecuali perubahan. Jadi batas toleransi pun bisa berubah kan?
Contohnya, kita punya mobil dari beli baru. Waktu akan beli, batas toleransi untuk spesifikasi sudah ditetapkan di awal. Ketika umur mobil semakin bertambah, dan banyak batas toleransi kita yang sudah dilanggar, jika kita masih terus menggunakan mobil itu, artinya batas toleransi kita sudah berubah berdasarkan situasi dan kondisi. Misalnya, sekarang mobil ini ngga nyaman buat perjalanan jauh, apalagi buat yang duduk di belakang, shock braker-nya udah mati. Tapi ngga apa-apa, memang udah sejak beberapa waktu ke belakang kita jarang sekali keluar kota. Kalo memang bener-bener perlu keluar kota, dan harus bawa mobil, kita bisa sewa aja.
Trus gimana cara antisipasi perubahan batas toleransi? Jawabannya, komunikasi, kompromi untuk mendapatkan solusi J
Sebuah pasangan suami istri yang bisa terus menjadi pasangan sampai akhir hayatnya, bukannya karena sama sekali tidak memiliki perbedaan. Tapi segala perbedaan atau keluhan yang ada, masih bisa diterima karena belum melewati batas2 toleransi dari pasangannya, dengan kata lain masih bisa dimaklumi. Pun ketika batas toleransi mulai terusik karena perubahan, mereka tidak terlambat untuk berkomunikasi sampai ditemukan batas toleransi baru sebagai solusi.
Orang yang sabar adalah orang yang memiliki ruang toleransi yang sangat luas.
Gimana untuk orang yang selalu pasrah kepada keadaan? Apakah orang itu punya toleransi yang sangat tidak terbatas atau malahan tidak memiliki batas toleransi sama sekali? 
Note :
Inti dari tulisan ini pernah ei sampein ke adik ei dan istrinya yg baru aja nikah buat bekal ke depan. Bekal mereka dan bekal ei juga pastinya 
*gambar diambil seenaknya dari http://wenzhouyili.ec51.com/*